Sampang – Senin (19/06/2023) pagi personil Sat. Binmas Polres Sampang dan Unit Binmas Polsek Sampang melaksanakan kegiatan Police Goes To School ke SMA Negeri 1 Sampang.
Kedatangan Kanit Bintibsos Sat. Binmas Polres Sampang Aipda Liwail Amri SH dengan didampingi Kanit Binmas Polsek Sampang Aipda Solich Akbarullah dan Bintara Binpolmas Sat. Binmas Polres Sampang ke sekolah yang berada di Jl. Jaksa Agung Suprapto untuk memberikan pembinaan dan penyuluhan kepada siswa-siswi serta guru SMA Negeri 1 Sampang.
Materi wawasan kebangsaan, pencegahan berkembangnya paham radikalisme, bahaya penyalahgunaan Narkotika dan Keselamatan dalam berlalu lintas di sampaikan secara bergantian oleh Aipda Amri dan Aipda Solich.
Kepada siswa-siswi SMA Negeri 1 Sampang, Aipda Liwail Amri menjelaskan bahwa wawasan kebangsaan adalah sebuah cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan tanah airnya sebagai negara yang mengutamakan persatuan dan kesatuan dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.
Siswa siswi diharapkan mengerti dan memahami bahwa Indonesia berdiri di atas berbagai perbedaan suku bahasa, agama, ras dan antar golongan yang disatukan melalui rasa persatuan Indonesia yang dimaksud dalam semboyan negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika.
Aipda Liwail Amri menegaskan kepada peserta Police Goes To School di SMA Negeri 1 Sampang bahwa persatuan dan kesatuan adalah harga mahal untuk mengisi kemerdekaan negara ini. Sehingga wawasan kebangsaan mengamanatkan kepada seluruh masyarakat bangsa Indonesia agar menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
Peserta pembinaan dan penyuluhan oleh personil gabungan Polres Sampang juga di jelaskan bahwa Pancasila adalah ideologi negara Indonesia dasar negara merupakan dasar falsafah Negara Indonesia dan ideologi negara yang diharapkan dapat menjadi pandangan hidup Bangsa Indonesia sebagai dasar pemersatu, lambang persatuan dan kesatuan serta pertahanan Bangsa dan Negara Indonesia.
Selain itu siswa-siswi di berikan pemahaman bahwa Pancasila Sebagai pondasi atau dasar untuk menata negara yang merdeka dan berdaulat. Sebagai dasar untuk mengatur penyelenggaraan negara hingga tercapai tujuan nasional.
Sebagai calon generasi penerus bangsa, pelajar harus menjunjung tinggi luhur Pancasila dan menerapkan atau mengimplementasikan didalam kehidupan sehari-hari seperti menjaga kerukunan antar pelajar, tidak melakukan bullying, saling hormat menghormati antar pelajar dan saling menghormati pemeluk agama lain saat menjalankan ibadah baik di sekolah maupun dilingkungan rumah.
Terkait pencegahan paham intoleran, radikalisme dan terorisme, Aipda Solich menjelaskan bahwa Intoleransi adalah awal terbentuknya radikalisme, lalu ekstremisme, dan terakhir dalam bentuk terorisme dengan kata lain intoleransi adalah benih dari radikalisme dan terorisme.
Aipda Solich Akbarullah menjelaskan pemahaman Radikalisme berasal dari kata “Radix” yang berarti “akar.” Dalam KBBI, radikalisme diartikan sebagai paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.
Dengan tegas Kanit Binmas Polsek Sampang menyatakan bahwa Radikalisme dan Terorisme dapat menimbulkan dampak buruk bagi Indonesia, antara lain terjadinya teror dan kekerasan yang menimbulkan keresahan bahkan ketakutan dalam masyarakat, bisa juga menimbulkan konflik horizontal maupun vertikal, dapat menyebabkan hilangnya harta benda bahkan nyawa sekalipun, terhambatnya perekonomian masyarakat, dan pada akhirnya bisa menimbulkan disintegrasi bangsa.
Meningkatnya tindakan dan perilaku provokatif yang dilakukan oleh kelompok masyarakat tertentu tentu dapat mengganggu ketertiban umum dan memecah belah persatuan dan kesatuan negara. Banyak hasutan yang dapat membangkitkan kemarahan publik yang didasari oleh intoleransi dan paham radikal.
Dikesempatan itu, personil Polres Sampang memberi penekanan kepada para peserta bahwa saat ini yang menjadi sasaran serangan paham radikalisme dan terorisme adalah pola pikir atau mind set berupa pertarungan ide, paham, gagasan untuk memengaruhi masyarakat khususnya kaum milenial.
Oleh sebab itu, para pelajar harus benar-benar dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial atau Internet, mengingat media sosial dan Internet adalah media yang paling mudah dan murah untuk melakukan serangan dan mempengaruhi mind set masyarakat.
Aipda Liwail Amri dan Aipda Solich juga mengingatkan kepada peserta bahwa Indonesia ini adalah rumah besar bagi semua anak bangsa yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda baik agama, suku, ras dan antar golongan, sehingga tidak boleh ada salah satu pihak yang mengklaim bahwa Indonesia harus menjadi milik agama tertentu, atau suku tertentu atau ras tertentu ataupun golongan tertentu.
Pelajar SMA Negeri 1 Sampang menyatakan sikap bahwa Radikalisme dan Terorisme dapat menimbulkan dampak buruk bagi Indonesia, antara lain terjadinya teror dan kekerasan yang menimbulkan keresahan bahkan ketakutan dalam masyarakat, bisa juga menimbulkan konflik horizontal maupun vertikal, dapat menyebabkan hilangnya harta benda bahkan nyawa sekalipun, terhambatnya perekonomian masyarakat, dan pada akhirnya bisa menimbulkan disintegrasi bangsa.
Sebelum berakhirnya kegiatan Police Goes To School, pelajar SMA Negeri 1 Sampang dengan tegas menolak dan akan bekerja sama dengan Polri dalam memberantas paham-paham radikal yang dapat merusak rasa persatuan di negara Indonesia.
